Honda Indonesia
Honda Digugat 1M

Akibat "Tak Peka", Honda Indonesia Digugat

02 Feb 2018 | 16:47 WIB

Merasa dibohongi, Eko Agus Sistiaji pemilik Honda Civic Turbo bernomor polisi B 171 DJI ini menggugat PT Honda Prospect Motor (HPM) dan PT Triwarga Dian Sakti, Bekasi sebagai diler Honda. 

Kasus ini bermula dari Honda Civic Turbo yang dibelinya pada 2 Maret 2017 lalu ini mesinnya mati total secara tiba-tiba saat digunakan jalan. Yang mengganjal, pihak bengkel tidak memberitahu penyakit dari mesin 1.500cc turbo ini kepada Eko, namun hanya dilakukan pergantian mesin.

Akibat "Tak Peka", Honda Indonesia Digugat

Kekecewaan Eko Agus Sistiaji atas penanganan pihak Honda Indonesia terhadap kerusakan mobilnya, berujung ke upaya hukum. Eko lewat kuasa hukumnya, David Tobing, mengajukan gugatan terhadap Honda Prospect Motor (HPM) ke Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta Utara, Kamis (1/2/2018).

Bukan hanya HPM, gugatan juga ditujukan ke PT Triwarga Dian Sakti sebagai pihak diler. Selain itu, perusahaan pembiayaan dan asuransi juga dijadikan pihak tergugat. Gugatan terdaftar dengan nomor 69/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Ut.

Dari keterangan David, Eko pernah membawa mobilnya untuk diperbaiki di bengkel resmi Honda, setelah beberapa hari ternyata solusi dari pihak Honda adalah penggantian mesin. Masalahnya, penggantian mesin itu sudah dilakukan tanpa persetujuan Eko.

Setelah tindakan itu, Eko sudah beberapa kali meminta informasi dan penjelasan mengapa mesin mobilnya diganti. Namun, hal itu tidak pernah diberi tahu dengan jelas.

Urusan jadi bertambah karena mesin baru di mobil Eko juga tidak menyelesaikan tapi malah menambah masalah. Dikatakan belum sampai sebulan terjadi masalah sensor yang ada di kabin. Kini mobil Eko sedang berada di pihak Honda.

Ada dua hal yang mendasari gugatan, yaitu pihak Honda dinilai mengabaikan hak Eko mendapatkan keamanan dan kenyamanan menggunakan mobilnya, dan pihak Honda dianggap melanggar hak Eko atas informasi sebenarnya.

"Intinya begini, pelanggaran yang dilakukan bukan hanya melanggar undang-undang konsumen tetapi juga bisa ke arah pidana karena mengganti mesin harus mengikuti prosedur yang ada karena kan surat kendaraan juga harus berubah," ucap David, seperti yang dilansir dari Kompas.com, Kamis (1/2/2018).

David menjelaskan sebelum resmi mengajukan gugatan sudah ada mediasi antara Eko dengan pihak Honda. Namun, permintaan Eko mengganti mobilnya dengan unit baru ditolak pihak Honda.

Di dalam gugatan, di antaranya Eko meminta pihak Honda mengganti mobilnya dengan unit baru spesifikasi sama; membayar sisa angsuran sebesar Rp 277 juta, membayar kerugian sebesar Rp 5 juta, dan membayar kerugian imateril sebesar Rp 960 juta. 

Kompas.com sudah menanyakan perkara ini ke pihak HPM. Namun, hingga berita ini diturunkan belum ada respons.


Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 11 Mei 2020 | 12:08 WIB
Bagikan

Kata Kunci Pencarian

mobilbarubekashondacivicturbodituntutJakartaindonesiadepoktanggerangbekasi