Pabrik
Subaru

Produksi Mobil "Asal-asalan", Subaru Kena Kasus

03 Nov 2017 | 11:17 WIB

Subaru akhirnya mengaku tidak melakukan prosedur inspeksi final, yang seharusnya dilakukan dalam proses produksi mobil. Kasus ini, menjadikan Subaru sebagai pabrikan Jepang kedua setelah Nissan yang tertimpa masalah pengawasan kualitas. Kedua pabrikan asal Jepang itu, disinyalir menggunakan orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan pemeriksaan akhir setiap kendaraan yang keluar dari pabrik. Ini dianggap menyalahi prosedur yang ditentukan otoritas Jepang.


Produksi Mobil "Asal-asalan", Subaru Kena Kasus



Sebelumnya, pihak pemerintah Jepang melalui Kementerian Transportasi, melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pabrikan otomotif. Lantas mengeluarkan rekomendasi, agar mereka melakukan pengecekan ulang terhadap sumber daya manusianya. Hal ini yang dilakukan Subaru, sehingga pihaknya mengakui bila pemeriksaan akhir tidak dilakukan oleh teknisi yang seharusnya.

"Kami akui pemeriksaan akhir ini sangat penting. Dan kami harus mengakui juga bila kami tidak memenuhi syarat yang semestinya," papar Yasuyuki Yoshinaga, CEO Subaru seperti dilansir dari Carcoops.

Tapi yang lebih parah, Yoshinaga bilang, hal ini sudah terjadi selama 30 tahun. Artinya, selama 30 tahun, mobil yang keluar dari Subaru tidak dilakukan inspeksi akhir oleh teknisi bersertifikat. Cuma pihaknya menyatakan, Subaru tidak mengetahui adanya peraturan yang dibuat Kementerian Transportasi Jepang.

Akibat hal ini, Subaru tengah mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ulang pada 255 ribu mobil yang mereka pasarkan. Namun dipastikan, mobil yang berpotensi ditarik untuk diperiksa ulang itu hanya yang mereka pasarkan di Jepang.

Sebelumnya diberitakan, Nissan berencana melakukan pemeriksaan ulang pada 1,2 juta mobil. Ini dilakukan setelah pemerintah Jepang melakukan inspeksi di dua pabrik mereka yang ada di Tochigi dan Kyoto. Pihak kementerian Transportasi menemukan fakta, mobil yang diproduksi Nissan tidak diperiksa oleh karyawan yang dianggap memiliki kualifikasi melakukan pengecekan akhir mobil. Sehingga, mobil yang dipasarkan, dianggap tidak sesuai prosedur keamanan, keselamatan dan administrasi.

Unit Nissan yang berpotensi diperiksa ulang Nissan Serena, Leaf dan Note. Pihak Nissan mengaku harus menggelontorkan dana hingga 25 miliar yen untuk proses penarikan, perbaikan dan pendataan ulang pada aspek radius putar, komponen pengereman serta data akselerasi.

Sementara itu dilaporkan, Toyota dan Honda juga melaporkan hasil pemeriksaan internal mereka terkait hal itu. Namun belum ditemui masalah yang serupa seperti Nissan dan Subaru.


Foto : Garasi.id

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 07 Mei 2020 | 14:30 WIB
Bagikan

Kata Kunci Pencarian

mobilbarusubaruproduksijepangkasusterancamotomotifjakartaindonesia