Tergiur Beralih ke Pertalite? Pahami Dampaknya ke Mesin Mobil

Harga Pertamax Naik, Amankah Bagi Mobil Beralih ke Pertalite?

15 Jun 2026 | 14:48 WIB

Kenaikan harga BBM sering kali membuat pemilik kendaraan mencari cara untuk mengurangi pengeluaran harian. Salah satu yang paling sering dipertimbangkan adalah beralih ke bahan bakar dengan angka oktan lebih rendah. Misalnya, mobil yang direkomendasikan menggunakan BBM RON 92 mulai diisi Pertalite dengan RON 90 karena harganya lebih terjangkau.


Sekilas, langkah ini memang terlihat dapat menghemat biaya pengisian bahan bakar. Namun, sebelum Sahabat Garasi memutuskan untuk beralih, ada baiknya memahami terlebih dahulu dampaknya terhadap performa dan kesehatan mesin kendaraan.


Pengaruh Pada Mesin

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konservasi Energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, dalam laman Kompas, penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah dari kebutuhan mesin dapat memicu terjadinya detonasi atau knocking yang sering disebut sebagai mesin ngelitik.


Detonasi terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar di ruang bakar terbakar lebih cepat sebelum percikan api dari busi muncul. Padahal, setiap mesin telah dirancang untuk bekerja dengan karakteristik bahan bakar tertentu agar proses pembakaran berlangsung optimal. Ketika angka oktan tidak sesuai, pembakaran menjadi tidak terkendali dan menghasilkan tekanan serta suhu yang lebih tinggi di dalam ruang bakar.


Kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan suara ngelitik, tetapi juga dapat memberikan beban tambahan pada berbagai komponen mesin. Dalam jangka panjang, suhu dan tekanan yang berlebihan berpotensi mempercepat keausan komponen internal.


Salah satu komponen yang paling rentan terkena dampaknya adalah piston. Komponen ini bekerja langsung di dalam ruang bakar dan harus menahan tekanan tinggi setiap kali proses pembakaran terjadi. Jika detonasi terus berlangsung, piston dapat mengalami panas berlebih yang berpotensi mempercepat kerusakan.


Tak hanya itu, pembakaran yang tidak sempurna juga dapat membuat kinerja mesin menjadi kurang optimal. Sahabat Garasi mungkin akan merasakan tenaga kendaraan sedikit berkurang, respons akselerasi menjadi tidak sebaik biasanya, hingga konsumsi bahan bakar yang justru bisa menjadi lebih boros dalam kondisi tertentu.


Pada kendaraan modern, sebenarnya sudah tersedia teknologi knock sensor yang berfungsi mendeteksi gejala detonasi. Ketika sensor mendeteksi knocking, sistem ECU akan menyesuaikan waktu pengapian agar pembakaran kembali stabil dan risiko kerusakan mesin dapat diminimalkan.


Meski begitu, fitur ini bukan berarti membuat mesin bebas menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah secara terus-menerus. Penyesuaian yang dilakukan ECU biasanya membuat performa mesin menurun karena sistem harus mengorbankan efisiensi pembakaran demi menjaga keamanan komponen mesin.


Karena itu, jika mobil Sahabat Garasi direkomendasikan menggunakan BBM minimal RON 92, sebaiknya tetap mengikuti anjuran pabrikan. Penggunaan bahan bakar yang sesuai tidak hanya membantu menjaga performa kendaraan tetap optimal, tetapi juga dapat memperpanjang usia pakai mesin dan mengurangi risiko kerusakan di kemudian hari.


Pada akhirnya, selisih biaya pengisian BBM mungkin terasa lebih hemat dalam jangka pendek. Namun, jika penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai menyebabkan penurunan performa atau bahkan kerusakan komponen mesin, biaya perbaikannya tentu bisa jauh lebih besar dibandingkan penghematan yang didapat. Oleh karena itu, memilih BBM sesuai spesifikasi kendaraan tetap menjadi langkah terbaik untuk menjaga kondisi mobil tetap prima.


Ditulis oleh ALVINA NURHALIZA
Terakhir diupdate: 15 Jun 2026 | 14:48 WIB
Bagikan

Kata kunci pencarian

garasiidbbmpertamaxron92pertaliteron90
Copyright © 2026 PT. Digital Otomotif Indonesia All Rights Reserved