Reflek
Jangan Reflek Tanpa Logika

Berkendara Tidak Boleh Reflek Tanpa Gunakan Logika

13 Feb 2019 | 20:00 WIB

Mengendarai kendaraan memang dibutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, hal ini diperuntukkan agar Sahabat Garasi semuanya selamat sampai tujuan. Terlebih saat konsentrasi di jalanan sudah terjaga, otomatis panik atau reflek melakukan pengereman tidak akan terjadi. Akan tetapi disaat Sahabat Garasi bertemu situasi yang memaksa melakukan pengereman mendadak, dan reflek kaki terjadi. Pastikan untuk tetap menggunakan logika agar tidak terjadi kecelakaan atau membahayakan pengendara lain.

Berkendara Tidak Boleh Reflek Tanpa Gunakan Logika

Berkendara Harus Gunakan Logika Saat Reflek

Di situlah mental pengendara harus diperkuat, artinya disaat reflek menginjak pedal rem pastikan gunakan logika, dan pastinya sudah dipikirkan hasil tindakan yang kita ambil. Disaat Sahabat Garasi berkendara menggunakan feeling, keselamatan di jalanan itu hanya memiliki kesempatan selamat 50 banding 50 antara gagal atau sukses saat mengambil tindakan.

Namun disaat kita mengambil tindakan dengan logika dan pikiran yang sehat. Disaat kita berpikir berkendara itu tidak mungkin ya jangan pernah mengambil tindakan tersebut. Karena bisa membahayakan Sahabat Garasi.

Misalnya disaat Sahabat Garasi ingin mendahului kendaraan yang ada di depan, disituasi seperti itu feeling kita mengatakan kita bisa mendahuluinya. Namun disini logika berpikir sangat dibutuhkan, seperti melihat kendaraan yang ada di belakang Sahabat Garasi, seberapa cepat kecepatan yang kita butuhkan, melihat kembali di depan ada kendaraan lain atau tidak.

Disaat semuanya memungkinkan, barulah Sahabat Garasi bisa mengambil keputusan untuk mengambil langkah tersebut.

Selain itu, jarak berkendara dengan kendaraan yang lain juga menjadi faktor yang penting. Menjaga jarak dengan kendaraan yang ada di depan itu idealnya 3 detik secara hitungan. 

Mengapa Harus Hitungan 3 Detik?

Menurut teori defensive driving, jarak aman mobil pengemudi dengan mobil yang berada di depannya adalah 3 detik. Mengapa menggunakan hitungan waktu dibandingkan dengan jarak dalam meter? Mengutip laman kompas.com dalam artikel Nissan.co.id, terdapat dua alasan dalam pemilihan menghitung jarak menggunakan hitungan waktu karena waktu relatif lebih mudah disesuaikan dengan kecepatan kedua mobil. Alasan kedua ialah ketika Sahabat melakukan rem, proses pengereman dengan keamanan dan kenyamanan bagi pengendara membutuhkan waktu selama 3 detik.

Menurut Rifat Sungkar, dalam kasus pengereman mendadak dibutuhkan waktu sekitar 0,5 detik hingga 1 detik. Waktu tersebut merupakan waktu bagi otak pengendara untuk memperoses perintah pada otot di kaki Sahabat untuk menginjak pedal rem. Selain itu, kerja mekanis dari sistem pengereman setelah menerima perintah untuk mulai memperlambat laju putar roda juga membutuhkan waktu selama 0,5 hingga 1 detik.

Alasan terakhir adalah kemampuan mobil dalam memproses mengerem hingga memberhentikan laju mobil juga membutuhkan waktu selama 0,5-1 detik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, 3 detik adalah waktu yang ideal untuk menjalankan semua proses di atas.

Jika dicontohkan, ketika mobil melaju secepat 100kpj, mobil tersebut berarti berpindah sejauh 27,7 m selama satu detik. Bagi pengemudi, hitunglah jarak aman 27,7 m dikali dengan 3 (hitungan jarak aman tiga detik) sehingga menghasilkan 83,1 m. Dan jarak aman pada mobil Sahabat ketika melaju secepat 100kpj dengan mobil lainnya adalah sejauh 83,1 m.

Nah Sahabat, mulai sekarang sudah tahu bukan kenapa ketika berkendara reflek dengan logika di utamakan dan tetap menjaga jarak aman saat berkendara menjadi penting. Jangan lupa menerapkannya ketika berkendara ya Sahabat. dan tetap selalu berhati-hati ketika berkendara agar selamat. Semoga tips ini bisa menambah wawasan Sahabat tentang cara berkendara yang aman ya Sahabat.

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 07 Mei 2020 | 14:30 WIB
Bagikan

Kata Kunci Pencarian

tipsinfoperingatanberkendaramobilbarubekasjakartabandungdepoksurabayajogjamalanggarasiidotomotif