Asian Games
Transportasi Asian Games

Ini Transportasi Asian Games 1962, Dari Fiat Hingga Bemo dan Oplete

16 Agt 2018 | 11:03 WIB

Bukan cuma membangun infrastruktur seperti gelora dan istora, serta membangun jalan dan hotel, pelaksanaan Asian Games 1962 juga diikuti dengan impor mobil secara besar-besaran. Kala itu, kendaraan yang didatangkan kebanyakan dari Eropa, seperti Fiat dan Mercedes-Benz.

"Setiap tim atau negara mendapatkan satu mini bus untuk atlet, sopir dan pelatihnya. Panitia juga menyediakan 67 mini bus, 33 bus berukuran besar, 67 ukuran mikro, 24 mobil sedan Fiat Multi - Pla, serta 35 mobil Land Rovers dan 20 mobil sedan Fiat 1800," ungkap sejarawan dari Kementerian Pendidikan, Amin Rahayu, M.Hum yang dilansir dari laman detik.com, Selasa (14/8/2018).

Ini Transportasi Asian Games 1962, Dari Fiat Hingga Bemo dan Oplete

Selain itu, panitia juga menyewa sejumlah kendaraan milik warga dari beberapa kota, seperti Bandung. Tapi karena saat itu orang yang mampu membeli mobil sangat terbatas, tentu jumlahnya tetap tidak memadai.

Baca Juga : Asian Games 2018 Akan Segera Dimulai, Ingat Lagi Rekayasa Lalu Lintas Yang Berlaku

Padahal yang harus dilayani bukan cuma para atlet dan tamu-tamu peserta Asian Games, tapi juga para wisatawan mancanegara maupun warga Jakarta dan dari kota-kota besar lainnya. Karena itu, panitia dan para menteri terkait membujuk Presiden Sukarno agar diizinkan mengimpor 400-500 sedan Fiat untuk dijadikan taksi.

"Para sopirnya direkrut dari kalangan mahasiswa dan pemuda yang telah memiliki SIM dan bisa berbahasa Inggris cukup baik," kata Amin yang menulis buku Asian Games IV 1962, Motivasi, Capaian, Revolusi Mental, dan Keolahragaan di Indonesia.

Selain itu, menurut James Luhulima dalam buku Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini, pada Juli 1962 diimpor kendaraan roda tiga, Daihatsu Midget. Kendaraan yang dirakit di Cawang oleh PT Pabrik Diesel dan Traktor miliki Tayeb Mohammad Gobel ini kemudian popular dengan sebutan Bemo (becak motor) yang mampu mengangkut 5-7 penumpang. Seiring kebijakan Gubernur Jakarta Sumarno yang ingin menghapus becak, usai pelaksanaan Asian Games, jumlah Bemo kembali ditambah 1.500 buah.

Ini Transportasi Asian Games 1962, Dari Fiat Hingga Bemo dan Oplete

Soal antusiasme masyarakat selama pelaksanaan Asian Games, menurut Amin, sejumlah media waktu itu memberitakan kebanyakan warga datang ke Senayan dengan berjalan kaki, naik sepeda atau becak karena kendaraan umum masih terbatas. Ratusan bemo dan opelet yang disiapkan tetap tidak sebanding dengan jumlah warga yang antusias datang untuk menyaksikan pertandingan.

"Praktis tidak terjadi kemacetan karena jumlah kendaraan masih terbatas. Kemacetan cuma terjadi saat pembukaan atau peresmian Gelora Bung Karno pada 21 Juli 1962," kata Amin.

Selain keterbatasan jumlah angkutan umum, ada oknum-oknum pengemudi bemo dan opelet yang memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi pribadi. Harian Duta Masjarakat, 28 Agustus 1962, melaporkan, para sopir itu lebih suka dicarter atau dengan harga mahal ketimbang menerapkan tarif yang ditetapkan pemerintah.

Selain itu, ada yang cuma mau mengantar penumpang hingga Tosari, tak sampai Harmoni, Jakarta. Setelah penumpang turun di Tosari, kendaraan-kendaraan tersebut mengangkut kembali penumpang untuk diantar ke Harmoni, dan begitu seterusnya. 

Foto : Internet

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 11 Mei 2020 | 06:55 WIB
Bagikan

Kata Kunci Pencarian

mobilbarubekasjualbeliaturanuuganjilgenap15jamberitanewsotomotifAsiangames2018jakartatilanggarasiidtransportasi1962indonesia