Biaya perawatan yang terbilang mahal membuat mobil-mobil transmisi CVT cukup tinggi harganya
Kelebihan transmisi CVT adalah perpindahan gigi yang halus sehingga membuat perjalanan semakin nyaman

Kelebihan dan Kekurangan Transmisi CVT Mobil

31 Jul 2019 | 10:18 WIB
BAGIKAN

Mobil dengan sistem transmisi otomatis atau matik semakin digemari masyarakat khususnya yang tinggal di perkotaan. Pengoperasian yang sederhana dan tidak banyak mengeluarkan tenaga, tentu sangat membantu saat menghadapi kemacetan.

Umumnya, sistem transmisi matik yang banyak beredar di Indonesia ada beberapa jenis, seperti matik konvensional, Continuous Variable Transmission (CVT), Dual-Clutch Transmission (DCT) dan Automated Mechanical Transmission (AMT).

Keunggulan dan Kekurangan Transmisi CVT Mobil

CVT itu sendiri merupakan singkatan dari continuously variable transmission. Transmisi CVT menggunakan sabuk baja yang diameternya bisa diubah melewati puli, bukan roda gigi. Maka dari itu, CVT mempunyai kinerja yang lebih halus jika dibandingkan dengan transmisi otomatis model lainnya.

Saat ini, penggunaan transmisi CVT sudah menjamur ke semua jenis mobil yang ada di Indonesia. Transmisi CVT ini sendiri banyak sekali dipakai oleh bermacam-macam jenis mobil, mulai dari yang sekelas LCGC, hingga mobil menengah ke atas yang harganya diatas Rp 500 juta.

Keunggulan dan Kekurangan Transmisi CVT Mobil

Tentunya bukan tanpa alasan kenapa banyak sekali pabrikan mobil yang kini memilih transmisi CVT untuk mobilnya. Alasan utama dari hal ini tentu karena kemampuan transmisi CVT yang bisa membuat konsumsi bahan bakar jadi lebih hemat. Lebih jauh lagi, pasti masih ada hal lain yang menjadi kelebihan transmisi CVT, yang membuat banyak pabrikan mobil jadi menyukai jenis transmisi ini.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, transmisi CVT menggunakan sepasang puli (drive pulley dan driven pulley) yang dihubungkan oleh sebuah belt atau sabuk baja. Kedua puli yang terhubung ke sabuk baja ini bisa membesar dan mengecil (bergerak ke kiri atau ke kanan) berdasar perintah komputer sesuai dengan putaran mesin dan laju mobil. Perubahan kedua puli ini membuat diameter sabuk ikut berubah. Diameter inilah yang menjadi rasio gigi pada transmisi CVT.

Diameter sabuk tersebut yang menjadi rasio gigi di transmisi CVT sehingga rasio gigi sangat luas dibandingkan dengan transmisi konvensional yang rasio giginya memiliki tingkatan. Karena rasio giginya luas, maka perpindahan giginya bergerak secara berkelanjutan, sehingga tidak ada jeda dan hentakan di setiap perpindahan gigi.

Keunggulan dan Kekurangan Transmisi CVT Mobil

Tidak adanya hentakan itulah yang membuat transmisi CVT jadi lebih nyaman untuk dipakai. Selain itu, Rasio gigi yang luas ini juga membuat transmisi CVT bisa menekan konsumsi bahan bakar mobil. Rasio gigi yang luas itu membuat mobil bisa melaju di kecepatan tinggi, namun putaran mesin tetap terjaga rendah sehingga konsumsi BBM jadi lebih irit.

Tapi di lain sisi, perpindahan gigi transmisi CVT yang menggunakan belt ini sekaligus menjadi kekurangannya. Transmisi CVT tidak bisa dipasangkan di mobil dengan torsi yang besar. Alasannya adalah karena belt tidak bisa menahan torsi berlebih yang dihasilkan mesin, makanya CVT lebih banyak disematkan di mobil-mobil dengan tenaga menengah ke bawah.

Bukan cuma itu, teknologi canggih dan komputerisasi yang dipakai membuat usia pakai transmisi cenderung lebih pendek dibanding transmisi berteknologi konvensional yang mengandalkan planetary gear set dan torque converter (kopling fluida).

Keunggulan dan Kekurangan Transmisi CVT Mobil

Parahnya lagi, jika terjadi kerusakan pada transmisi CVT, ketersediaan suku cadang atau komponen pengganti di Indonesia tergolong sulit dicari. Biaya perbaikan atau penggantiannya pun juga tak bisa dibilang murah, karena akan memakan biaya hingga puluhan juta rupiah.

Foto : Garasi.id


Ditulis oleh GEDE RAMANANDA
Terakhir diupdate: 31 Jul 2019 | 10:18 WIB
BAGIKAN