Mengemudi membutuhkan konsentrasi penuh. Sebab, sedikit saja perhatian teralihkan, pengemudi bisa kehilangan kesempatan untuk merespons kondisi yang terjadi secara cepat di jalan. Namun, pada praktiknya masih banyak pengemudi yang melakukan aktivitas lain ketika kendaraan sedang melaju. Mulai dari menggunakan ponsel, mencari rute melalui peta digital, hingga memperhatikan berbagai hal di sekitar jalan. Padahal, berbagai aktivitas tersebut dapat menjadi distraksi saat mengemudi dan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan di laman Kompas bahwa distraksi dalam berkendara memiliki berbagai bentuk. Untuk membantu pengemudi mengingatnya, Jusri memperkenalkan rumus "REAL MAN SLEEP IN UNDERWEAR" yang merangkum lima kategori gangguan konsentrasi saat berkendara.
5 Jenis Distraksi Saat Mengemudi
Berikut lima kategori distraksi yang perlu Sahabat Garasi kenali agar bisa lebih waspada saat berada di balik kemudi.

REAL – Route Problem
Route Problem merupakan gangguan yang muncul akibat kondisi atau persoalan terkait rute perjalanan. Hal ini cukup sering terjadi ketika pengemudi melewati daerah yang belum familiar. Misalnya, pengemudi sambil berkendara mencoba mencari alamat, membaca petunjuk jalan, atau menentukan rute melalui peta digital.
Meskipun terlihat sederhana, aktivitas tersebut dapat membuat perhatian pengemudi terbagi antara mengendalikan kendaraan dan mencari arah perjalanan.
Karena itu, jika membutuhkan navigasi, sebaiknya rute ditentukan terlebih dahulu atau gunakan sistem navigasi dengan cara yang tidak mengharuskan pengemudi terus-menerus melihat layar.

MAN – Mental Problem
Berikutnya adalah Mental Problem, yaitu distraksi yang berasal dari kondisi pikiran dan emosi pengemudi. Gangguan ini kerap tidak terlihat secara langsung karena terjadi di dalam pikiran. Masalah pekerjaan, kondisi keluarga, persoalan keuangan, hingga berbagai tekanan pribadi dapat membuat pikiran tidak sepenuhnya tertuju pada aktivitas mengemudi.
Emosi akibat situasi di jalan juga bisa menjadi pemicu. Contohnya ketika pengemudi merasa kesal karena ada kendaraan lain yang melakukan manuver secara tidak aman.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan pengemudi untuk berkonsentrasi dan mengambil keputusan dapat ikut terganggu.

SLEEP – Scenery Distraction
Meski menggunakan kata SLEEP, kategori ini merujuk pada Scenery Distraction, yaitu gangguan yang berasal dari pemandangan atau objek yang menarik perhatian di sekitar jalan.
Contohnya ketika pengemudi terlalu fokus melihat billboard, kendaraan menarik, kejadian kecelakaan, atau orang yang berada di pinggir jalan. Gangguan visual juga dapat terjadi ketika pengemudi menonton tayangan video saat kendaraan sedang bergerak.
Padahal, kondisi jalan dapat berubah dalam hitungan detik. Mengalihkan pandangan dari jalan terlalu lama dapat membuat pengemudi terlambat menyadari adanya kendaraan, pejalan kaki, atau objek lain di depannya.

IN – In-Car Distraction
In-Car Distraction adalah gangguan yang berasal dari dalam kabin kendaraan. Contoh paling umum adalah menggunakan ponsel ketika mengemudi. Namun, sumber distraksi tidak hanya berasal dari perangkat elektronik. Percakapan dengan penumpang, anak kecil yang bergerak di dalam mobil, mengatur barang, hingga muatan yang tidak terikat dengan baik juga dapat mengganggu konsentrasi.
Aktivitas multitasking seperti mengemudi sambil melakukan pekerjaan lain sebaiknya dihindari. Fokus pengemudi harus tetap berada pada kondisi jalan dan pengendalian kendaraan.
UNDERWEAR – Unfamiliar Tasking
Terakhir adalah Unfamiliar Tasking, yaitu kondisi ketika pengemudi harus melakukan sesuatu yang belum terbiasa dilakukan. Salah satu contohnya adalah mengemudikan kendaraan dengan sistem transmisi yang berbeda dari yang biasa digunakan. Pengemudi yang sehari-hari menggunakan mobil manual, misalnya, kemudian harus mengendarai mobil matik yang belum familiar.
Selain jenis transmisi, karakter kendaraan yang berbeda, fitur yang belum dipahami, atau kondisi berkendara yang tidak biasa juga dapat menjadi sumber distraksi.
Sebelum berkendara dengan kendaraan yang belum familiar, luangkan waktu untuk memahami cara kerja kendaraan dan fitur-fitur utamanya terlebih dahulu.

Konsentrasi Terpecah Bisa Berujung Fatal
Mengemudi bukan sekadar aktivitas memindahkan kendaraan dari satu tempat ke tempat lain. Pengemudi perlu terus mengamati lingkungan sekitar, memperkirakan potensi bahaya, mengambil keputusan, serta mengendalikan kendaraan secara bersamaan.
Ketika konsentrasi terbagi akibat distraksi, kemampuan pengemudi dalam menjalankan tugas tersebut dapat menurun. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko terjadinya kesalahan maupun kecelakaan. Karena itu, penting bagi Sahabat Garasi untuk mengenali berbagai sumber distraksi sebelum berkendara. Pastikan ponsel sudah disimpan, rute perjalanan telah dipersiapkan, kondisi pikiran cukup tenang, dan tidak ada aktivitas lain yang mengganggu fokus.
Ingat, keselamatan di jalan dimulai dari fokus di balik kemudi. Jadi, jangan biarkan distraksi kecil mengganggu perjalanan Sahabat Garasi!











