Sejarah Mobil
LCGC Indonesia

Sejarah LCGC di Indonesia Berawal Dari Kuda Mati

09 Jun 2018 | 12:00 WIB
BAGIKAN

Segmen mobil low cost green car (LCGC) memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki kendaraan roda empat dengan harga terjangkau.

Nyatanya tidak hanya ada di zaman modern, mobil murah juga pernah hadir di masa lalu pada era kolonial Belanda.

Pada masanya, mobil murah tersebut memiliki bentuk terbuka, menggunakan tiga roda, mesin di depan, dan kursi pengemudi layaknya kusir delman.

Hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati duduk manis di kendaraan bermesin itu.

Sejarah LCGC di Indonesia Berawal Dari Kuda Mati

Mobil masih menjadi barang langka yang digunakan oleh orang kaya Eropa ataupun para pedagang China. Sedangkan sisanya masih mengandalkan kereta kuda.

Seiring berjalannya waktu dominasi dokar, sado, delman, gerobak, cikar, dan kossong mulai pudar. Di saat bersamaan lonjakan jumlah mobil meningkat drastis. Tercatat banyak merek mobil Eropa yang mengaspal jalanan Surabaya saat itu.

Mobil dengan merek Ford, Chrysler, dan Dodge banyak berkeliaran. Tentu saja kendaran-kendaran ini adalah hasil impor atau completely built-up (CBU), yang bahkan tidak drakit di Hindia Belanda atau Indonesia saat itu.

Sampai pada akhirnya, kereta kuda yang masih melintas bersama dengan mobil yang mulai menjamur justru menimbulkan permasalahan baru.

Kecelakaan mobil dengan kereta kuda kerap terjadi dan mengakibatkan kuda-kuda mati. Hal ini diperparah dengan bau semerbak kotoran hewan ini yang menyelimuti penjuru kota.

Dari situlah kemudian timbul wacana untuk membatasi ruang gerak kereta kuda dengan menghadirkan mobil murah.

Tanpa menunggu lama, wacana tersebut langsung dijawab oleh sebuah perusahaan NV Demmo di Surabaya.

Caranya, mereka menggandeng sejumlah produsen karoseri di Surabaya untuk merakit mobil dengan wujud dan harga yang paling terjangkau. Sedangkan mesinnya didatangkan langsung dari Amerika Serikat.

Kemudian lahirlah mobil roda tiga pertama yang diberi nama Demmo.

Setengah komponennya dari dalam negeri, dan setengahnya lagi dari luar negeri yang mencakup mesin 2-tak berpendingin.

Demmo kian menjamur di Malang karena didukung iklannya dengan jargon "waktu berjalan cepat, menggunakannya dengan baik". Bunyi tapak kuda pun juga semakin tereduksi oleh suara mesin 2-tak Demmo yang beradu pacu.

Kebisingan kota dengan populasi Demmo yang terus meningkat tidak menyurutkan masyarakat untuk tetap memboyong mobil murah itu. Pabriknya terus menerima pesanan dari luar Jawa yang akhirnya tidak lagi menampung kapasitas produksi yang kian besar.

Popularitas Demmo di kota-kota besar pulau Jawa memantik perusahaan lain untuk membuat mobil serupa.

Adalah Borsumij, yang juga merakit mobil serupa Demmo yang dinamakan Atax. Mesinnya didatangkan langsung dari Inggris, sementara body-nya rakitan lokal.

Tahun 1935 populasi mobil roda tiga tersebut makin menjadi-jadi. Suara bising dari mesin Demmo dan Atax diprotes banyak warga. Hal ini memacu NV Demmo untuk menyudahi pasokan mesin dari Amerika Serikat dan mulai bekerja sama dengan pabrikan mesin Merkur asal Jerman.

Hasilnya protes menurun karena penggunaan mesin dari Jerman yang lebih tenang.

Namun sayang, era kejayaan mobil murah tidak bertahan lama, pabrikan mulai sulit mendatangkan bahan baku atau komponen mobil serta suku cadang karena situasi politik dan ekonomi zaman kolonial Belanda terpecah saat itu.

Padahal Demmo semakin diminati dan menjadi mobil favorit.

Memasuki tahun 1940-an Demmo menjadi barang langka. Dua tahun berikutnya saat Belanda hengkang dan digantikan oleh Jepang, Demmo dan Atax hilang, pabriknya pun juga memutuskan untuk stop produksi alias tutup karena situasi peralihan penjajahan tersebut. 

Foto : Internet

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 09 Jun 2018 | 12:00 WIB
BAGIKAN