Tilang Kendaraan
Tilang Elektronik

Tilang CCTV Bisa 'Mati Surikan' Parktik Uang Damai ke Polisi, Tapi ...

27 Nov 2018 | 20:00 WIB
BAGIKAN

Pelanggaran lalu lintas masih kerap dilakukan. Berbagai upaya dilakukan kepolisian namun belum efektif membuat jera para pelanggar lalu lintas. 

Pihak kepolisian juga cukup rutin melakukan razia terhadap para pengendara nakal. Tetapi seolah kebal ditilang, para pelanggar masih nekat melakukan pelanggaran. 

Tilang CCTV Bisa 'Mati Surikan' Parktik Uang Damai ke Polisi, Tapi ...

Untuk itu pihak kepolisian melakukan tilang berbasis kamera CCTV alias Electronic Traffic Law Enforcement (e-TLE). e-TLE dinilai lebih akurat dan diharap bisa efektif mengurangi tindak pelanggaran lalu lintas.

Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) baru saja diluncurkan oleh pihak kepolisian di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (25/11/2018). Hal tersebut di sambut positif oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dengan adanya penegakan hukum yang lebih modern.

Baca Juga : Tilang CCTV Mulai Digalangkan, Jakarta Jadi Percontohan

Sistem E-TLE sudah diterapkan di Jakarta sejak 1 November 2018. Sebanyak 4 kamera CCTV dipasang di Bundaran Patung Kuda dan Sarinah untuk mendukung pelaksanaan sistem tersebut.

Polisi juga sudah melakukan sosialisasi dan uji coba sistem E-TLE selama Oktober. 

Dalam keterangan resmi YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) mengatakan bahwa E-TLE sudah diterapkan negara maju, bahkan kota Ho Chi Min CIty di Vietnam pun sudah menerapkan lebih dulu. 

Lebih lanjut, menurut YLKI, juga turut menghapuskan budaya uang damai di tempat yang dilakukan oleh oknum.

"Pada konteks pelayanan publik, ETLE juga merupakan inovasi pelayanan publik karena adanya unsur kebaruan, kemudahan, dan mempunyai akuntabilitas tinggi. Dan juga bisa direplikasi di daerah lain. Fenomena suap antara oknum polantas dengan pelaku pelanggar lalu lintas yang selama ini sering terjadi, akan hilang," tulis Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangan resmi.

E-TLE juga akan mendorong kesadaran bagi pengguna kendaraan bermotor di Jakarta. Pengguna ranmor akan mematuhi rambu-rambu lalu lintas tanpa harus melihat ada polisi atau tidak.

"Tetapi akan dimonitor oleh "banyak mata", yakni kamera-kamerayangbisameng-capture nomor kendaraan pemilik ranmor, karena berbasis kamera ENPR, jenis kamera tercanggih saat ini. Oleh karena itu,masyarakat pengguna ranmor di Jakarta seharusnya lebih patuh, dan waspada untuk tidak melanggar rambu-rambu lalin," lanjut Tulus.

Namun, ada beberapa catatan YLKI terkait penerapan ETLE, yaitu:

1. ETLE punya kelemahan untuk kendaraan berpelat non B, maka tidak akan terdeteksi. Dan artinya jika ada kendaraan pelat non B yang melanggar, maka tidak bisa dilakukan penegakan hukum. Lalu bagaimana polisi akan melakukan pengawasan terhadap kendaraan berpelat non B tersebut, yang masih banyak beredar di Jakarta?

2. Penerapan ETLE jangan hanya menjadi proyek uji coba/sementara saja, tetapi harus menjadi program yang permanen untuk memperkuat penerapan ERP (Electronic Road Pricing). Belum pastinya teknologi ELTE yang digunakan, keberlanjutan ETLE bisa berhenti di tengah jalan.

3. Bagi masyarakat pemilik kendaraan bermotor, baik mobil dan sepeda motor, yang belum balik nama sebaiknya segera melakukan balik nama. Sebab surat pelanggaran ELTE akan dikenakan dan dikirim by pos, atas nama pemilik yang tertera pada STNK dan BPKB kendaraan. Sebab sangat mungkin yang melakukan pelanggaran adalah si A (pemilik kendaran sekarang), tetapi surat tilang akan dikirimkan ke alamat si B, karena STNK dan BPKB masih atas nama si B. Padahal yang melakukan pelanggaran rambu lalin adalah si A tersebut.

Foto : Garasi.id

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 27 Nov 2018 | 20:00 WIB
BAGIKAN