ABS,BA,EBD
Perbedaan Sistem Rem Mobil

Mengenal Lebih Jauh Sistem Pengereman Pada Mobil

14 Mar 2019 | 18:04 WIB
BAGIKAN

Fitur keamanan kendaraan yang disematkan pada sistem pengereman ternyata bukan hanya ABS (Anti-lock Braking System) yang kerap didengar. Namun masih ada beberapa lagi, seperti yang sudah mulai banyak digunakan, seperti Brake Assist (BA) dan Electronic Brake Force Distribution (EBD). 

Tommy Hermansyah, Product Knowledge Dept PT Toyota Astra Motor pada acara "Safety Workshop", menjelaskan, perbedaan ketiganya. ABS, BA, dan EBD sendiri masuk dalam ketegori fitur active safety, atau komponen yang bertugas untuk mencegah terjadinya kecelakaan. 

Mengenal Lebih Jauh Sistem Pengereman Pada Mobil

ABS 

Mulai dari ABS, kata Tommy, teknologi ini pertama kali diaplikasikan untuk pesawat terbang, agar tidak tergelincir ketika mendarat, karena kondisi jalan yang tidak selalu sama. Baru kemudian disematkan pada kendaraan roda empat dan roda dua. 

Sederhananya, ABS sendiri berfungsi untuk membuat roda tidak terkunci ketika pengemudi mengerem terlalu dalam (force brake). Membuat roda tidak bisa dikontrol dan digerakkan ke kiri maupun ke kanan, sehingga sulit menghindari objek tabrak. 

"Jadi ketika mobil ada ABS-nya, rem otomatis akan membuka dan menutup, jadi buka-tutup buka-tutup untuk mencegah mobil stuck, yang akhirnya mendapat traksi dan bisa dibelokkan. Ini sangat berguna ketika jalan licin atau berpasir dan melakukan force braking," kata Tommy, melansir laman Kompas.com Rabu (29/3/2017). 

Baca juga: Begini Cara Gunakan dan Merawat Rem ABS Yang Benar

Mengenal Lebih Jauh Sistem Pengereman Pada Mobil

Brake Assist (BA) / EBA

BA merupakan singkatan dari "Brake Assistance" sedangkan EBA adalah "Emergency Brake Assistance", yang secara bahasa keduanya berarti bantuan pengereman. BA dan EBA bukanlah fitur yang terpisah, melainkan dua istilah untuk satu fitur yang sama.

Fitur BA/EBA berfungsi meningkatkan tekanan rem dalam kondisi darurat. Fitur Brake  Assist ini dibuat karena menurut hasil penelitian, banyak kecelakaan dan tabrakan terjadi karena pengemudi menginjak rem kurang dalam pada kondisi darurat. Misalnya karena panik sedangkan jarak dengan objek tabrakan terlalu dekat.

Cara kerja BA/EBA dengan sensor yang memonitor kecepatan roda dan kekuatan injakan rem oleh pengemudi saat pengereman mendadak. Komputer secara otomatis memerintahkan penambahan tekanan kanvas rem jika pengemudi menginjak rem tidak terlalu kuat pada kondisi panic braking. Sebagai hasilnya, fitur ini mengurangi jarak henti hingga 20% jika dibandingkan pengereman tanpa fitur ini.

Pada mobil-mobil yang canggih di zaman sekarang, fitur BA/EBA dikombinasikan dengan ABS/EBD dan bahkan sudah ada fitur Auto Braking System yang menggunakan sensor untuk mendeteksi objek di depan mobil, sehingga secara otomatis mobil akan mengurangi kecepatan untuk menjaga jarak aman dengan mobil di depan dan menghentikan mobil jika akan menabrak walau pengemudi tidak menginjak rem.

Electronic Brake Force Distribution (EBD) 

EBD merupakan singkatan dari Electronic Braking Distribution, yang dalam bahasa Indonesia berarti fitur pengaturan distribusi tekanan rem secara elektronik.

Fitur EBD ini berfungsi mengatur tekanan rem sesuai beban dan kecepatan masing-masing roda, sehingga secara keseluruhan pengereman dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Atau dengan kata lain, merupakan fitur penyeimbang tekanan rem pada masing-masing roda.

Fitur EBD dibuat sebagai pendukung fitur ABS, karena dalam perkembangan teknologi pengereman, fitur ABS ternyata dianggap belum mencukupi kondisi ideal, sehingga para pakar otomotif dunia mengembangkan fitur EBD untuk memperpendek jarak pengereman sampai mobil benar-benar berhenti.

EBD memfungsikan sensor yang memonitor beban pada setiap roda, cara kerjanya, jika pengemudi menginjak pedal rem, maka sensor membaca beban yang dipikul setiap roda, kemudian komputer memerintahkan kanvas rem untuk menekan piringan rem atau tromol sesuai beban masing-masing roda sehingga pengereman menjadi seimbang.

Sebagai hasilnya jarak pengereman menjadi lebih pendek dan lebih efektif. Mekanisme kerja EBD tersebut diperlukan saat mobil melalui lintasan yang tidak rata, menanjak, menurun atau dalam kondisi menikung, karena beban masing-masing roda akan berbeda-beda.

Dalam praktisnya, teknologi rem EBD selalu digandengkan dengan fitur ABS. Kedua fitur tersebut biasa ditulis ABS+EBD atau ABS/EBD, karena keduanya berfungsi secara terintegrasi dan saling bekerja sama sebagai fitur keselamatan.

Sensor diletakkan pada setiap roda untuk memonitor tekanan rem dan beban masing-masing roda. Setiap sensor mengirimkankan sinyal ke system komputer mobil baik piranti ABS maupun EBD, untuk selanjutnya komputer mengatur tekanan hidrolik pada minyak rem dengan menentukan saat yang tepat untuk melepaskan rem atau memberi tekanan kembali dalam waktu singkat.

Secara ringkas dapat dijelaskan, ketika pengemudi menginjak rem secara mendadak dan roda mengunci, EBD-lah yang menentukan roda mana yang akan mendapat tekanan rem paling kuat.

Kemudian saat pengemudi memutar setir kekiri atau kekanan, piranti ABS memberi sinyal untuk mengurangi tekanan pengereman pada roda tertentu agar kembali berputar, hingga mencegah roda tersebut mengunci dan mobil dapat dikendalikan sesuai kebutuhan.

Nah Sahabat, begitulah pengertian dari sistem pengereman. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan Sahabat.

Foto : Garasi.id

Ditulis oleh ANJAR
Terakhir diupdate: 14 Mar 2019 | 18:04 WIB
BAGIKAN