Converter
Catalytic Converter

Punya Mobil Bekas Ingin Tekan Emisi, Coba Ubah dengan Catalytic Conventer

10 Mar 2019 | 18:00 WIB
BAGIKAN

Indonesia sudah gembar-gemborkan untuk memasuki standar emisi baru yakni Euro4. Tentu ini jadi catatan sendiri buat Sahabat Garasi yang memilih mobil bekas. Karena tidak menutup kemungkinan mobil Sahabat Garasi tidak lulus uji emisi.

Tapi tenang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan Sahabat Garasi untuk bisa lolos uji emisi. Selain harus mengubah settingan mesin, ada baiknya ikut mengubah juga komponen knalpot seperti menambahkan Catalytic Conventer.

Punya Mobil Bekas Ingin Tekan Emisi, Coba Ubah dengan Catalytic Conventer

Memang knalpot tidak terlalu berpengaruh atau tidak perlu diganti untuk menekan emisi. Tapi kalau Sahabat Garasi mengubahnya dengan menambahkan Catalytic Conventer, dijamin ini juga bisa membantu Sahabat Garasi menekan emisi gas buang dan mendapatkan angka terbaik.

Penambahan Catalytic Converter akan sangat berperan untuk mobil yang berusia 2007 ke bawah, yang belum memiliki diselipkan standar bahan bakar oleh pabrikan. Sedangkan rata-rata untuk mobil yang berusia 2010 ke atas sudah dilengkapinya dan mesinnya memang sudah memiliki ukuran standar bahan bakar, sehingga lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Terus 'Digodok', Hasil Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Akan Jadi Syarat Bayar Pajak

Mengenal Cara Kerja Catalytic Conventer

Dalam sistem pembuangan gas mobil, terdapat salah satu bagian yang diberi nama catalytic converter atau kerap disingkat CC. Perangkat ini sejak 2007 lalu wajib dipasang pada setiap mobil baru untuk mendapatkan standar Euro2. Melansir dari laman Nissan Indonesia, apa sebenarnya perangkat ini? Lalu bagaimana cara kerjanya?

MENGATASI RACUN SECARA CEPAT

Mobil menggunakan bahan bakar untuk bisa bergerak. Selain energi gerak, mesin mobil juga menghasilkan gas buang yang kandungannya bermacam-macam, termasuk beberapa jenis gas yang berbahaya. Tanpa adanya sistem penyaringan khusus, gas-gas bersifat racun seperti CO, NO, hingga NO2 bisa keluar. CO adalah gas yang sangat berbahaya karena mampu meracuni darah ketika terhirup. Sedangkan NO dan NO2 merupakan jenis gas yang mampu melubangi ozon serta menyebabkan hujan asam yang tentu berdampak langsung terhadap lingkungan.

Untuk mengurangi racun tersebut, ditemukanlah sebuah cara yakni dengan mengusahakan reaksi antara gas CO dan gas NO, serta reaksi gas NO2 dengan hidrokarbon. Namun, reaksi ini hanya bisa terjadi dalam suhu tinggi, yaitu ketika mesin kendaraan tidak mampu bekerja secara efektif. Diperlukan adanya katalisator dengan fungsi mempercepat reaksi yang dalam suhu rendah. Di sinilah peran catalytic converter atau CC berada.

BENTUK DAN PERAWATANNYA

Bentuk catalytic converter umumnya menyerupai sisir atau sarang lebih yang memiliki lubang-lubang kecil. Perangkat ini memiliki material logam campuran antara platina dan rhodium. Saat gas buang menyentuh catalytic converter, seketika itu juga terjadi reaksi kimia yang mana zat-zat berbahaya di atas mampu hilang dengan sendirinya. Gas buang pun jadi lebih bersih sementara logam yang digunakan sebagai katalisator tidak berubah sifat.

Walaupun perangkat ini tidak berubah sifat, namun bukan berarti tidak butuh perawatan. Catalytic converter mengalami degradasi setelah digunakan sepanjang 100.000 km yaitu kemampuannya menurun 35%. Lamanya mesin hidup juga memengaruhi usia catalytic converter. Seperti seberapa sering melalui jalur kemacetan sehingga membuat mesin bekerja lebih lama meskipun jarak tempuh mobil cenderung tidak terlalu jauh.

DIMANAKAH LETAKNYA

Letak catalytic converter ini umumnya berada di kolong mobil. Karena harganya yang mahal, akibatnya catalytic converter ini pun sering jadi obyek curian. Namun jangan khawatir, di Indonesia, beberapa pabrikan Jepang cukup cerdik mengatasi hal tersebut. Perangkat ini ditempatkan langsung setelah area pembuangan gas di dekat blok mesin dan disatukan dengan rumah sensor oksigen. Dengan begitu, pencurian catalytic converter dapat terhindar.

Penggunaan catalytic converter sangat penting guna menjamin kelestarian lingkungan. Tak hanya itu, sistem berkemudi juga wajib diperhatikan. Dengan kata lain, semakin hemat bahan bakar, maka semakin sedikit gas buang yang dihasilkan.

Foto : Garasi.id

Ditulis oleh GARASI.ID
Terakhir diupdate: 10 Mar 2019 | 18:00 WIB
BAGIKAN